Rabu, 21 Maret 2012

usaha


1. Pekerjaan yang Menghasilkan Barang
Pekerjaan yang menghasilkan barang diwujudkan dalam bentuk usaha, antara lain :
-    Pertanian, ada 2 yaitu :
1. Pertanian rakyat, yaitu usaha pertanian yang menghasilkan bahan makanan pokok. Misalnya jagung, padi, ketela pohon, sagu, dll.
Lahan yang ditanami adalah ladang, tegalan dan sawah.
2. Pertanian perkebunan, yaitu usaha pertanian dengan menanam tanaman yang menghasilkan bahan perdagangan. Misalnya teh, kopi, cengkih, dll.
Untuk meningkatkan hasil pertanian usaha yang dilakukan dengan menerapkan panca usaha tani. Yaitu : pemilihan bibit unggul, pengolahan tanah, pengairan, pemupukan dan pemberantasan hama.
-    Peternakan adalah usaha seseorang untuk memelihara hewan. Contohnya : beternak sapi, kambing, kerbau dan unggas.
Untuk meningkatkan hasil peternakan dengan usaha yaitu : memilih jenis ternak sesuai dengan keadaan alam, menyiapkan bibit ternak yang unggul, melakukan penyilangan antara hewan sejenis, melakukan pembuahan secara buatan.






Peternak digolongkan menjadi 3, yaitu :
1. Peternak hewan besar, seperti sapi, kuda, kerbau.
2. Peternak hewan kecil, seperti kambing, biri-biri, kelinci, dll.
3. Peternak unggas, seperti itik, ayam, burung puyuh, dll.
-  Perikanan. Budidaya perikanan ada 2, yaitu :
1. Perikanan darat : usaha yang dilakukan di daratan, seperti waduk, sungai, kolam dan sawah.
2. Perikanan laut : usaha perikanan yang dilakukan di laut yang berupa penangkapan ikan.
-  Industri, merupakan perusahaan yang menghasilkan barang. Menurut modal dan alat yang digunakan, di bedakan menjadi 4, yaitu :
1. Industri besar : modal sangat besar, alat modern, tenaga lebih dari 100 orang.
2. Industri menengah : modal cukup besar, alat semi modern, tenaga antara 20 – 99 orang.
3. Industri kecil : modal kecil, alat semi modern, tenaga kurang dari 20 orang.
4. Industri rumah tangga : modal kecil, alat sederhana, tenaga kurang dari 5 orang.

Senin, 19 Maret 2012

kreatifitas guru


BAB I
PENDAHULUAN

            Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kakuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Sedangkan tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualitas sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan (Ketentuan umum, pasal 1 UU Sisdiknas no. 20 Tahun 2003)
            Pendidikan nasional yang kita selenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Bab, II, Pasal 2 dan 3 UU no 20 Th 2003 tentang Sisdiknas)
            Prinsip penyelenggaraannya pun demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, menjunjung tinggi hah asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa dengan sistem terbuka dan multi makna, bahkan pendidikan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi teladan, membangun kemampuan, dan membangun kreativitas dalam proses pembelajaran.
            Dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar, seorang guru dituntut untuk selalu mengembangkan diri dan selalu dituntut untuk kreatif dalam melaksanakan tugas keseharian di hadapan siswa.
            Berdasarkan uraian di atas, penulis akan mencoba membahas masalah kreatifitas guru. Maka dengan itu penulis memilih judul “Kreatifitas Guru Dapat Menunjang Keberhasilan Pendidikan”.



BAB II
PEMECAHAN MASALAH

A. Mutu Pendidikan
               Pendidikan yang bermutu seperti diatur dalam PP No. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan mencakup 8 standar yaitu :
1.      Standar Isi
2.      Standar Proses
3.      Standar Kompetensi Lulusan
4.      Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
5.      Standar Sarana dan Prasarana
6.      Standar Pengelolaan
7.      Standar Pembiayaan
8.      Standar Penilaian Pendidikan
Untuk mencapai penyelenggaraan pendidikan yang bermutu maka dari ke 8 standar tersebut di atas harus dipenuhi oleh para penyelenggara pendidikan.
Berkaitan dengan standar pendidikan dan tenaga kependidikan , Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen kiranya merupakan tantangan sekaligus harapan bagi dunia pendidikan kita dewasa ini. Filosofi yang mendasari lahirnya undang-undang ini adalah mewujudkan sosok guru sebagai pemangku jabatan profesional yang sejahtera. Oleh karena itu undang-undang ini mempersyaratkan kualifikasi pendidikan S1/DIV serta sertifikasi profesi/pendidik.

B. Pembelajaran Yang Inspiratif dan Motivatif
Pembelajaran adalah kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilakukan guru secara terencana, perprogram, dan sistematis, artinya KBM harus dilaksanakan dengan baik dan hasilnya pun terukur.KBM pun harus berlangsung secara menyemangkan. KBM yang kurang disukai anak didik tidak akan menghasilkan tujuan secara maksimal. Oleh karena itu guru harus kreatif dalam melaksanakan pembelajaran. Disarankan dalam melaksanakan KBM menggunakan PAKEM yaitu Pembelajaran aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.  Tentu pembelajaran yang menyenangkan akan memberikan kenyamanan bagi peserta didik dalam menyerap materi pelajaran.Dengan pembelajaran yang berlangsung secara menyenangkan akan memberi pengaruh positif bagi perkembangan jiwa anak, bahkan peserta didik akan mendapatkan kemudahan dalam mengembangkan imajinasi dan daya nalarnya sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki.
Pembelajaran yang menyenangkan pun harus dilakukan guru secara kreatif, karena model pembelajaran ini akan dapat memotivasi peserta didik untuk belajar secara terus menerus guna memahami cakrawala pengetahuan yang teramat luas. Tetapi yang pertama kali harus dibangun dulu dalam konsep pembelajaran yang menyenangkan adalah pemahaman konsep. Janganlah pemahaman konsep diajarkan kepada peserta didik tidak secara kreatif. Hal ini akan berdampak buruk bagi peserta didik untuk belajar selanjutnya. Bila pemahaman konsep diajarkan tanpa metode yang membuat paserta didik senang tentu muara hasilnya tidak seperti yang kita harapkan bersama.
a. Pembelajaran Inspiratif adalah :
1.    Mengembangkan daya imajinasi peserta didik
2.    Peserta didik dapat memberikan contoh yang seluas-luasnya
3.    Peserta didik dapat melakukannya sebagai peraga
4.    Memberi pedoman untuk penerapan dan pengembangan selanjutnya.
b. Pembelajaran Motivatif adalah :
1.   Membangun suasana belajar yang kondusif
2.   Peserta didik senang dan berani bertanya
3.   Belajar tanpa rasa takut
4.   Dengan sadar peserta didik mulai membentuk kepribadiannya

C. Kompetensi Dasar Seorang Guru
               Disamping guru wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi profesional pendidik sebagai agen penbelajaran yang diperolehnya melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma yang sesuai dengan tugasnya sebagai seorang guru, ia juga harus memiliki kompetensi profesi pendidik yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesi, dan kompetensi sosial.
               Kompetensi pedagogik adalah bagaimana seorang guru menunjukkan kemampuannya dalam mengelola penbelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
              Kompetensi kepribadian adalah kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhak mulia.
              Kompetensi profesional adalah bagaimana seorang guru menunjukkan  kemampuannya dalam menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memperoleh kompetensi yang ditetapkan.
              Sedangkan kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik berkomunikasi dan terinteraksi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat.

D. Guru Kreatif
              Guru kreatif adalah guru yang banyak akalnya dalam melaksanakan tugas kesehariannya sebagai tenaga kependidikan. Guru yang kurang banyak akal hanya akan mengajar secara konvensional, guru yang demikian ini tidak bisa disebut sebagai guru yang kreatif. Sangat mudah menandai guru yang tidak kreatif.
Ciri-ciri guru yang tidak kreatif :
1.      Mengajar hanya sekedar mengajar, tidak peduli peserta didik menerima atau memahami materi ajar atau tidak.
2.      Merasa dirinya pintar karena disebut guru, akibatnya malas membaca buku dan tidak lagi merasa perlu menimba ilmu.
3.      Biasa berpenampilan santun bahkan amat santun, karena memang lebih mengutamakan penampilannya sebagai seorang guru dari pada kemampuannya sebagai seorang guru.
4.      Bersikap memberi jarak kepada peserta didik dan menghindari kritik bahkan menolak kritik dan yang lebih celaka lagi adalah alergi kritik.
5.      Mengajar dengan tertib, ketat dalam hal waktu sebagai jadwal bekerja bahkan tidak kompromi dalam hal waktu.
6.      Semakin lama mengajar semakin kuat dalam pendirianya, bahkan semakin tidak mengenal perubahan, terlebih-lebih ada kecenderunganapatis dalam menerima perubahan.

E. Ciri-ciri guru kreatif
            Seorang guru yang kreatif adalah seorang guru yang mampu dalam hal :
1.      Mengajar dengan penuh keprihatinan apabila peserta didik susah menerima pelajaran yang diajarkan.
2.      Selalu merasa dirinya harus terus belajar karena menyadari bahwa sebagai seorang guru harus menguasai berbagai metode mengajar yang terus berkembang.
3.      Pada umumnya berpenampilan tidak amat santun bahkan ada kecenderungan malu bila diketahui berprofesi sebagai guru karena merasa dirinya orang yang tidak serba tahu.
4.      Tidak memberi jaran dengan peserta didik, baginya peserta didik bukanlah obyek melainkan subyek, oleh karena itu tidak alergi terhadap berbagai kritik.
5.      Mengajar dengan tetib tetapi sangat kompromis dalam hal waktu.
6.      Meskipun sudah lama mengajar tetapi dirinya selalu merasa kurang ilmu, oleh karena itu panik bila terjadi perubahan dalam kebijakan pelaksanaan pendidikan.
              Demikian perbedaan sikap antara guru yang tidak kreatif dengan guru yang kreatif. Di tangan guru yang kreatif seorang peserta didik penakut akan menjadi peserta didik yang pemberani, peserta didik yang pemalu akan menjadi peserta didik yang mudah bergaul, peserta didik yang pendiam akan menjadi peserta didik yang ramah, peserta didik yang memiliki ketergantungan akan menjadi peserta didik yang msndiri, peserta didik yang tidak tahu akan menjadi peserta didik yang ingin tahu, peserta didik yang pasif akan menjadi peserta didik yang aktif, peserta didik yang kurang peduli akan menjadi peserta didik yang peduli dan masih banyak lagi perubahan yang anak didik yang megatif akan menjadi positif. Hal ini akan dapat terwujud hanya di tangan guru yang kreatif. Dan perubahan sikap tersebut diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilakukan guru secara kreatif.



BAB III
KESIMPULAN

                  Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam BAB II, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Pendidikan yang bermutu merupakan tantangan sekaligus harapan bagi dunia pendidikan kita dewasa ini.
2.      Pembelajaran yang menyenangkan harus dilakukan guru secara kreatif, karena model pembelajaran ini akan dapat memotivasi peserta didik untuk belajar secara terus menerus guna memahami cakrawala pengetahuan yang teramat luas.
3.       Seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi profesional pendidik sebagai agen penbelajaran yang diperolehnya melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma yang sesuai dengan tugasnya sebagai seorang guru, ia juga harus memiliki kompetensi profesi pendidik yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesi, dan kompetensi sosial.
4.      Guru yang kreatif adalah guru yang banyak akalnya dalam melaksanakan tugas kesehariannya sebagai tenaga kependidikan.

makna olahraga


MENELUSURI MAKNA OLAHRAGA


            Filsafat olahraga, seperti filsafat pada umumnya berusaha untuk memahami hakikat, mempersoalkan isu olahraga secara kritis, guna memperoleh pengetahuan yang paling hakiki. Mental image adalah sebuah abstraksi dari fenomena yang tampak berdasar persepsi terhadap fakta yang tertangkap oleh indra. Sehingga setiap orang akan memperoleh persepsi yang berbeda terhadap obyek yang diamati.
            Konsep dasar keolahragaan meliputi : bermain (play), pendidikan jasmani (physical education), olahraga (sport), rekreasi (recreation), tari (dance), dan gerak insani yang menjadi inti dari kegiatan dalam bidang keolahragaan.

SISTEM YANG SEMPURNA

            Manusia mencerminkan ciri sebuah system yang amat sempurna, terutama ditinjau aspek fisik-fisiologi. Gerak yang tampak merupakan hasil kerja keseluruhan system yang sinkron dan menyatu antara jiwa dan badan (body and mind), jasat-nafsu-akal-kalbu-roh yang membentuk suatu individu sebagai pribadi. Unsur fisik-biologis, biokimia, impuls syaraf-elektronik menyatu dengan unsur mental dan ruhaniah.
            Dalam sehari-hari akan terjadi ikatan timbal balik antara aspek emosi dan kelangsungan kerja faal tubuh, seperti denyut meningkat karena kondisi siaga.
            Fenomena paling konkrit sebagai obyek formal ilmu keolahragaan adalah gerak laku manusia dalam bentuk gerak insani, terutama keterampilan gerak yang dapat dikuasai melalui belajar. Gerak insani adalah medan pergaulan yang bersifat mendidik antara peserta didik sebagai actor, atau pelaku  pendidik sebagai pengarah sekaligus fasilitator.
            Tujuan akhir yang ingin dicapai dalam pendidikan jasmani dan olahraga adalah tercapainya kesejahteraan paripurna umat manusia.


BEBERAPA KONSEP DASAR

Bermain
Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan secara bebas dan suka rela. Motif bermain anak-anak adalah dorongan naluri untuk merangsang perkembangan fisik dan mental. Untuk orang dewasa bermain sebagai suatu kebutuhan yang dilaksanakan tanpa paksaan.
Roger Cailluis (1955) membagi permainan (Game) menjadi empat, yaitu :
1. Agon-permainan bersifat pertandingan untuk memperoleh kemenangan sehingga butuh perjuangan fisik yang keras.
2. Alea-permainan bersifat untung-untungan seperti main dadu sehingga ketrampilan tubuh tidak diperlukan
3. Mimikri-permainan fantasi yang membutuhkan kebebasan, dan bukan sungguhan.
4. Illinx-permainan untuk mencerminkan keinginan melampiaskan gerak seperti mendaki gunung.
Olahraga
            Muatan teknologi yang menggabungkan otot dan mesin serta temuan ilmiah melahirkan olahraga yang berorientasi teknologi (tecno-sport), meskipun esensi olahraga adalah permainan manusia (human game).Lingkungan hidup juga mempengaruhi corak olahraga, sehingga lahir olahraga yang bernuansa lingkungan (eco-sport).
            Difinisi olahraga selamanya tidak akan bisa dirumuskan, karena olahraga selalu berkembang dengan mengikuti perubahan jaman. Makna olahraga selalu berubah sepanjang waktu , tetapi esensi pengertianya berkaitan dengan tiga unsur, yaitu bermain, latihan fisik dan kompetisi.
            Difinisi olahraga menurut Matveyev (1981 dalamRusli 1992) bahwa “Olakraga merupakan kegiatan otot yang energik dan dalam kegiatan itu atlit menperagakan kemampuan geraknya (performa) dan kemampuannya semaksimal mungkin,” merupakan rumusan pandangan olahraga elit-kompetitif.
            Difinisi olahraga menurut UNESCO, yaitu “Setiap aktivitas fisik perupa permainan yang berisikan perjuangan melawan unsur-unsur alam, orang lain ataupun diri sendiri.
            Difinisi olahraga menurut Dewan Eropah (1980) adalah “Olahraga sebagai aktivitas spontan , bebas, dan dilaksanakan selama waktu luang.
            Pada tahun 1983 Indonesia mencangangkan panji olahraga “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat,”dan sekaligus ditetapkan sebagai Hari Olahraga Nasional. Jiwa dan semangat gerakan olahraga tersebut adalah demokratisasi olahraga yang menekankan kesempatan yang sama dan persamaan hak, sesuai dengan inti sari dari International Charter of Physical Edukation yaitu pendidikan jasmani dan olahraga merupakan hak asasi manusia, tak ubahnya seperti has seseorang untuk memperoleh pendidikan.
            Istilah olahraga yang dipakai sebagai rujukan pengembangan ilmu keolahragaan (Prof. Haag , 1986, Seidentop, 1984) adalah difinisi yang bersifat umum, rumusan seorang gedagog olahraga Jerman, Prof. Haag (1986) yang memperoleh pengakuan internasional yang isinya sebagai berikut : The world sport is not used the narrow sense of athletics or competitive sport; rather it means the sum of physical activities of formal and informal nature realize mostly in sport disciplines but also in fundamental forms like calisthenics, fitness-training, or aerobics.
Dengan kata lain istilah olahraga bersifat umum, tidak digunakan dalam pengertian olahraga kompetitif karena tidak hanya sebagai himpunan aktivitas fisik yang resmi terorganisir (formal) dan tidak resmi (informal) seperti dalam cabang olahraga, tetapi juga dalam aktivitas dasar seperti senam, latihan kebugaran jasmani, atau latihan aerobic.
            Sesuai dengan fungsi dan tujuan, Indonesia mengenal beberapa bentuk kegiatan olahraga sesuai dengan motif dan tujuannya, yaitu : 1. Olahraga pendidikan, 2. Olahraga rekreasi, 3. Olahraga kesehatah, 4. Olahraga cacat, 5. Olahraga penyembuhan, 6. Olahraga kompetitif.
            Jadi olahraga dilakukan karena berbagai alasan penting dari sisi pelakunya. Nilai-nilai dan manfaat yang diperoleh para pelaku itu didapat dari partisipasi atau keterlibatan aktif sebagai pelaku dalam beberapa kegiatan yang bersifat hiburan, pendidikan, rekreasi, kesehatan, hubungan sosial, perkembangan biologis, kebebasan menyatakan diri, pengujian kemampuan sendiri atau kemampuan diri dibandingkan dengan orang lain. Dengan kata lain, seperti dikemukakan Zakrajsek (1991), Olahraga merupakan wahana untuk mengalami aspek pengalaman manusiawi.


  • Olahraga sebagai Sub-sistem Bermain.
Inti yang paling dalam dari olahraga dibentuk dari sebuah kriteria yaitu makna bermain dan permainan. Kriteria yang paling otentik adalah bahwa kegiatan tersebut didasarkan pada factor kebebasan dan kesengajaan atas dasar kesadaran pelakunya untuk berbuat, sebagai lawan dari aktivitas yang bersifat paksaan atau desakan; inilah yang membedakan ciri permainan yang sejati. Tindakan sejati adalah olahraga tidak dipandang sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi merupakan sumber dari keriaan (joy) dan kebahagiaan (happiness).
  • Gambaran Struktural Spesefik Olahraga
Dunia olahraga berbeda dengan dunia permainan dan berbeda pula dengan kategori ludik (permainan) lainnya misal domino dan catur.
Ø  Fokus pada gerak dalam pelaksanaan olahraga
Orientasi fisikal (fisik) kegiatan olahraga merupakan ciri utama dalam konteks ini, seperti aspek gerak, daya tahan, kecepatan, kekuatan dan ketrampilan yang merupakan unsur inheren dari kegiatan olahraga. Setiap bentuk permainan sejati dalam olahraga terdiri atas kegiatan yang lebih menekankan aspek gerak, sehingga unsur jasmaniah menjadi sangat dominan.
            Perwujudan gerak dalam olahraga ini terkait dengan aspek dorongan (drive) pada manusia yang terikat dengan faktor sosial dan budaya juga pengaruh kejiwaan dan motif.
Ø  Realitas yang sebenarnya dari olahraga
            Keterlibatan seseorang dalam olahraga tidak terpaku pada peran yang telah ditetapkan saja, tetapi merupakan bagian dari dunia nyata atau konkrit. Bersama dengan yang lain pemain memainkan sebuah permainan yang real dalam konteks bermain dan faktor kesungguhan merupakan kriteria yang melekat pada pelaksanaan olahraga. Perbuatan setengah hati atau pura-pura, bertentangan dengan ciri hakiki olahraga.
Ø  Prinsip performa dan prestasi dalam olahraga
            Gross (1973; dalam Hagele, 1992 ) menekankan unsur tujuan dan prestasi seperti halnya keriangan karena mampumelakukan sesuatu sebaik mungkin atau melebihi orang lain sebagai faktor penentu kegiatan olahraga. Ada tiga dimensi karakteristik prestasi olahraga, yaitu :
o   Prestasi itu dinyatakan melalui aspek jasmaniah.
Diarahkan untuk menguasai, memelihara dan mengoptimalkan ketrampilan gerak.
o   Kegiatan dilaksanakan secara suka rela.
o   Kegiatannya tidak dimaksudkan untuk menghancurkan orang lain tetapi justru untuk meningkatkan solidaritas.
Pengejaran dalam pencapaian prestasi merupakan pencapaian semu. Karena dalam pencapaian tersebut, tempat, waktu, lawan, situasi, kondisi yang berbeda satu tempat dengan yang lain, serta penyempurnaan teknik dan sarana prasarana yang lebih lengkap. Misalnya lari marathon. Perlombaan yang dilaksanakan antara satu tempat dengan tempat yang lain sangat berbeda situasinya dan kemajuan teknik, lintasan, dan sepatu serta pakaian yang modern sangat mempengaruhi.
Ø  Dimensi sosial olahraga
            Dunia olahraga sangat dipengaruhi oleh hubungan antar strukturnya, tanpa memandang bentuknya. Proses pembelajaran ketrampilan olahraga itu berlangsung dalam suasana sosial yang melibatkan hubungan antar orang, dan bahkan disaksikan oleh para pendukung dan media masa sebagai penghubung antar lingkungan masyarakat.

Olahraga dan kesehatan
            Tidak ada yang meragukan bahwa kesehatan itu bukanlah segala-galanya, tetapi segala sesuatu tidak akan ada artinya tanpa kesehatan (Rhotig & Prohl, 1991). Konsep kesehatan yang relevan dengan pedagogi olahraga (sport pedagogy) mengandung 5 unsur, yaitu (1) kebugaran jasmani; (2) pengelolaan stres melalui kompensasi terhadap kurang gerak; (3) kesadaran gizi; (4) lingkungan yang kondusif sebagai kondisi bagi cara hidup individu yang sehat; dan (5) tanggung jawab terhadap kesehatan yang baik (Ardell, 1983; dalam Pottinger, 1990).
            Sebagai bahan pertimbangan ada dua aliran pendekatan dalam pembinaan olahraga yang berkaitan dengan kesehatan di Jerman. Pertama aliran yang menekankan konsep pelatihan. Berdasar pendekatan tersebut, makna kesehatan direduksi sebagai sebuah proses untuk mencapai parameter yang menjadi target, sementara faktor situasi yang bersifat subyektif dan kebutuhan individu tidak dihiraukan.
            Kedua, konsepsi kesaharan tubuh (body awarness) yang menekankan harmoni antara manusia dan lingkungannya untuk mencapai taraf kesehatan yang memuaskan. Pendekatan ini menekankan penggunaan olahraga sebagai “alat” untuk mencapai derajat kesehatan yang memadai sebagai upaya untuk mengatasi masalah yang muncul dalam kehidupan modern sebagai akibat kurang gerak atau ketidak harmonisan antara jiwa dan raga.
            Berdasarkan asumsi bahwa “kesehatan” belum menjadi masalah bagi anak-anak, maka para pengelola menyembunyikan topik kesehatan dibalik kompetisi.
  • Sifat kompetisi merupakan motif di kalangan anak-anak, sementara hadiah merupakan stimulasi tambahan.
  • Gaya hidup sportif merupakan sebuah model perilaku yang berorientasi pada kesehatan.
  • Peningkatan kebugaran merupakan motif bagi para peserta yang memiliki performa rendah.
Sebanyak 159 siswa dari Hessian Comprehensive School ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Hasilnya :
  • Tes kebugaran jasmani, member kesenangan yang besar kepada yang memiliki kemampuan yang tinggi.
  • Tidak ada korelasi antara frekuensi latihan dengan peningkatan skor kebugaran jasmani.
  • Peningkatan relatif kebugaran jasmani di kalangan para siswa yang memiliki nilai yang rendah dalam pendidikan jasmani, tidak lebih tinggi dari pada siswa yang nilainya lebih baik.
  • Setelah tiga minggu hanya satu dari 12 anak yang tidak mengikuti kebugaran jasmani dalam konteks studi longitudinal.
Program kompetisi tersebut tidak diragukan hasilnya dan ternyata dapat merangsang siswa untuk berlatih, tetapi keadaannya berbeda bila latihan itu tidak dikaitkan dengan kompetisi.
            Pendekatan sosio-anthropologi dapat diartikan sebagai suatu kesehatan yang dapat dicapai sebagai hasil interaksi dinamis antara individu dan dunia sekitarnya. Dengan demikian olahraga bukanlah alat atau wahana untuk mencegah penyakit peradaban, tetapi keberadaannya harus diterima dengan sendirinya sebagai sebuah fenomena sosial-budaya.
            Dapat disimpulkan sebagai berikut : Pendekatan latihan dalam pembinaan kesehatan via olahraga percaya bahwa kesehatan ditandai dengan berfungsinya sistem faal tubuh, sementara pendekatan kesadaran tubuh menekankan makna sehat sebagai harmoni antara jiwa, badan dan dunia. Pendekatan sosio-anthropologis menekankan makna sehat sebagai sebuah potensi yang memungkinkan manusia untuk mampu mengatasi masalah dalam hidup.
            Solutogenik adalah model mengenai sehat yang dikembangkan oleh Aaron Antonovsky (1985; dalam Rothing & Prohl, 1991) mengatasi masalah dikhotomi antara sehat dan sakit dan memusatkan perhatian pada daerah luas antara kedua kutub, sehat dn sakit, yaitu daerah neutralitas sebagai zona transisi antara sehat (sanitas) dan sakit (aegritudo). Tujuan dari model solutogenik ini adalah serupa dengan konsep klasik yaitu memelihara kesehatan, sehingga aksen dari upaya pemeliharaan kesehatan itu bersumber pada “sense of Coharance” atau “rasa menyatu” yang mengandung pengertian sebuah orientasi global yang dinyatakan dalam rasa percaya untuk mampu mengatasi lingkungannya sendiri.
            Uraian dalam model Antonovsky memang tidak secara khusus ditujukan untuk bidang olahraga, akan tetapi model ini cukup jelas menganjurkan agar fenomena sosial budaya olahraga perlu dipertimbangkan sebagai sumber dari sumber daya ketahanan sehingga olahraga tampaknya merupakan salah satu bentuk dari beberapan sumber yang memungkinkan manusia untuk meraih hidup yang bermakna (sehat).

Pendidikan Jasmani
            Difinisi yang pernah dirumuskan sebagai rujukan nasional (Mendikbud 413/U/1957) adalah mengungkap fungsi pendidikan jasmani untuk memberikan sumbangan terhadap pendidikan menyeluruh : “Pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskhular, intelektual dan emocional.” Konsep pendidikan jasmani terfokus pada proses sosialisasi atau pembudayaan via aktivitas jasmani, permainan, dan atau olahraga. Prosese sosialisasi berarti pengalihan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda.
            Secara perlahan, Indonesia mengadopsi gagasan barat tentang pendidikan jasmani, sambil mencari bentuk sendiri, dengan inovasikeil disana sini.

Rekreasi
            Pendekatan kata untuk memahami istilah rekreasi adalah berdasar istilah leisure yang berarti free time (waktu luang) yang digunakan di Inggris dan Amerika Utara, yang berasal dari bahasa latin, licere yang berarti diizinkan. Kegiatan rekreasi adalah kegiatan yang memang cocok untuk mengisi waktu luang dengan sifat bukan paksaan, melainkan atas kehendak sendiri secara suka rela. Sesuai dengan tujuannya untuk memperoleh kepuasan, maka kegiatan rekreasi bersifat non-survival (penyelamatan/petualangan yang mengancam keselamatan).
            Berkaitan dengan konsep rekreasi adalah pendidikan untuk membentuk sikap rekreasi aktif, jadi rekreasi melalui aktivitas jasmani dan atau kegiatan di alam terbuka. Dengan demikian rekreasi dipandang sebagai kesempatan untuk menyatakan spontanitas dan kreativitas, dan karena itu rekreasi berfungsi dalam pengembangan kepribadian. Itulah sebabnya pendidikan rekreasi erat hubungannya dengan pendidikan jasmani dan pendidikan kesehatan.

Tari
            Olahraga banyak mengandung unsur keindahan (eastetika) seperti juga terdapat dalam senam, loncat indah dan figure skating. Ditinjau dari aspek peragaan keterampilan yang memerlukan kualitas kondisi fisik yang prima, tari bisa masuk dalam tapal batas kegiatan olahraga. Di Indonesia titik beratnya memang masih pada aspek seni, dan belum ditelaah dari aspek gerak dan estetika.